Indonesia merupakan Negara yang segala aspek kehidupannya berasaskan Pancasila. Pancasila dijadikan sebagai sebuah ideologi negara dan dasar karakter bangsa. Pancasila “diselipkan” di dalam undang-undang dasar 1945 sebagai landasan kefilsafatan yang dan mejiwai penyusunan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam undang-undang dasar itu. Dengan demikian, maka pancasila melandasi dan

seharusnya menjiwai kehidupan negara di Indonesia, termasuk kegiatan berpolitik di indonesia. Sistem demokrasi Pancasila merupakan sistem yang dianut Indonesia pada masa sekarang ini, sistem politik ini pada dasarnya menjungjung nilai-nilai luhur yang berada dalam artian Pancasila. Seperti kita ketahui indonesia memiliki kebudayaan yang kuat sebagai bangsa timur hal ini merasuki nilai-nilai politik berkaitan erat dengan kebudayaan bangsa indonesia. Mayoritas rakyat Indonesia seakan tak peduli dengan politik macam apa negeri ini dibangun. Arena perebutan kekuasaan di ajang pemilu tak banyak membuat rakyat Indonesia tertarik ikut andil dalam pesta demokrasi itu.

Wajar saja, setiap ajang pemilu serangan fajar dengan bungkusan (angpau) atau menghujani media dengan peluru peluru fitnah sana-sini ke lawan tanding di pemilu. Ketika terpilih, toh ujung-ujung masuk jeruji besi. Partai pengusung tak peduli siapa wakil atau pemimpin yang diusung, tersangkut masalahkah atau tidak. Parpol hanya berfokus untuk mengisi jabatan kepemerintahan oleh kader-kader partainya tanpa jelas visi misinya. Wajah-wajah pemimpin bangsa ini sangat langka dengan kejujuran, kesantunan dalam berpolitik, sangat susah menemukan pemimpin yang lepas dari ikatan yang namanya praktik KKN.

Pemimpin bangsa ini, mudah sekali terjerumus dengan segepok uanglah, berbidangbidang tanahlah, atau “oleh-oleh” yang mengandung maksud tersembunyi kepada sasarannya. Tak takutkah mereka dengan Tuhan? Tak bisakah hati nurani terbuka melihat rakyat bangsa ini mengais belas kasihan para raja di atas sana? Mungkin ini hanya potret kecil kondisi politik Indonesia yang jauh melenceng dari Pancasila. Mereka seakan sangatlah santun dalam berpolitik namun dibelakang layar mereka keji kurasa benar sajak pak Prabowo ini,

 “Boleh bohong asal santun, Boleh mencuri asal santun, Boleh korupsi asal santun, Boleh khianat asal santun, Boleh ingkar janji asal santun Boleh jual negeri asal santun, Boleh menyerahkan kedaulatan negara kepada asing asal santun”.